BANJIR NABI NUH: SUKABUMI BERDUKA PELAJARAN UNTUK KITA

Sel, 10 Desember 24 pukul 02.32

Saya Peduli

Bencana alam, termasuk banjir bandang, sering kali terjadi sebagai pengingat dari Allah SWT kepada umat manusia. Dalam Al-Qur'an, banjir bandang bukan hanya dipaparkan sebagai peristiwa alam semata, tetapi juga sebagai bentuk peringatan, ujian, dan pelajaran bagi manusia agar kembali kepada Allah. Salah satu kisah banjir paling terkenal adalah banjir besar pada zaman Nabi Nuh ‘Alaihissalam, yang diabadikan dalam Al-Qur'an untuk menjadi pelajaran bagi seluruh generasi. Di masa kini, bencana seperti banjir masih terjadi dan kerap membawa dampak besar bagi masyarakat, seperti banjir bandang yang baru-baru ini melanda Sukabumi. Peristiwa ini mengingatkan kita akan pentingnya menjaga keseimbangan alam, meningkatkan ketakwaan, dan memperbaiki hubungan kita dengan Allah SWT dan sesama.


Banjir Bandang pada Zaman Nabi Nuh AS

Nabi Nuh ‘alaihissalam adalah salah satu Nabi ulul azmi yang diutus oleh Allah kepada kaumnya yang telah menyimpang dari ajaran tauhid. Selama berabad-abad, Nabi Nuh menyeru kaumnya untuk menyembah Allah dan meninggalkan penyembahan berhala. Namun, hanya sedikit yang menerima dakwahnya. Sebagian besar dari mereka malah mengejek, menentang, dan mengabaikan peringatan beliau. Allah SWT kemudian memerintahkan Nabi Nuh untuk membangun bahtera besar sebagai persiapan menghadapi banjir besar yang akan menjadi azab bagi kaum yang ingkar. Banjir ini bukan banjir biasa, melainkan banjir global yang menenggelamkan seluruh bumi.


Allah ﷻ berfirman:


وَاصْنَعِ ٱلْفُلْكَ بِأَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا وَلَا تُخَٰطِبْنِى فِى ٱلَّذِينَ ظَلَمُوٓا۟ ۖ إِنَّهُم مُّغْرَقُونَ


"Dan buatlah kapal dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim; sesungguhnya mereka akan ditenggelamkan." (Surah Hud: 37)


Setelah bahtera selesai dibangun, Allah SWT memerintahkan Nabi Nuh untuk membawa pengikutnya yang beriman, beserta sepasang dari setiap jenis hewan, ke dalam bahtera. Ketika azab dimulai, langit mencurahkan hujan deras, dan bumi memancarkan mata air sehingga terjadilah banjir besar yang menenggelamkan semua yang ada di bumi, kecuali mereka yang ada di dalam bahtera.


Kisah ini diabadikan dalam Qur’an Surah Hud ayat 44:


وَقِيلَ يَـٰٓأَرْضُ ٱبْلَعِى مَآءَكِ وَيَـٰسَمَآءُ أَقْلِعِى وَغِيضَ ٱلْمَآءُ وَقُضِىَ ٱلْأَمْرُ وَٱسْتَوَتْ عَلَى ٱلْجُودِىِّ ۖ وَقِيلَ بُعْدًۭالِّلْقَوْمِ ٱلظَّـٰلِمِينَ

"Dan difirmankan: 'Wahai bumi, telanlah airmu, dan wahai langit, berhentilah (dari hujan).' Maka air pun surut, perintah pun terlaksana, dan bahtera itu pun berlabuh di atas Gunung Judi."


Hikmah dari Kisah Nabi Nuh

Kisah banjir Nabi Nuh mengandung banyak hikmah yang relevan untuk kita, di antaranya:


1- Kesabaran dalam Dakwah

Nabi Nuh menunjukkan kesabaran yang luar biasa dalam menghadapi kaumnya, meskipun dakwahnya sering kali ditolak dan diejek.


2- Kepatuhan pada Perintah Allah

Ketika diperintahkan untuk membangun bahtera di tengah ejekan kaumnya, Nabi Nuh tetap menjalankan tugasnya dengan penuh ketaatan.


3- Azab bagi yang Ingkar dan Penyelamatan bagi yang Beriman

Peristiwa ini menunjukkan bahwa keimanan dan ketaatan kepada Allah adalah jalan keselamatan, sedangkan kedurhakaan membawa kehancuran.


4- Allah Maha Kuasa atas Segala Sesuatu

Banjir Nabi Nuh menjadi bukti nyata bahwa Allah mampu menimpakan azab yang luar biasa kepada mereka yang menentang-Nya.


Banjir dalam Perspektif Al-Qur'an

Selain kisah Nabi Nuh, Al-Qur'an juga menyebutkan peristiwa banjir yang menimpa kaum Saba'. Dalam Surah Saba' ayat 15-16, Allah menceritakan bahwa banjir besar menghancurkan kebun-kebun mereka sebagai akibat dari kedurhakaan mereka:


فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ ٱلْعَرِمِ وَبَدَّلْنَـٰهُم بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَىْ أُكُلٍ خَمْطٍۢ وَأَثْلٍۢ وَشَىْءٍۢ مِّن سِدْرٍۢ قَلِيلٍۢ


"Maka Kami kirimkan kepada mereka banjir besar (yang menghancurkan bendungan mereka), dan Kami ganti kebun mereka dengan kebun yang penuh dengan pohon-pohon yang berbuah pahit."

Al-Qur'an juga menegaskan bahwa bencana alam sering kali merupakan akibat dari perbuatan manusia. Allah berfirman dalam Surah Ar-Rum ayat 41:


ظَهَرَ ٱلْفَسَادُ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ ٱلَّذِى عَمِلُوا۟ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ


"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)."


Banjir Sukabumi: Refleksi dan Tindakan

Baru-baru ini, banjir bandang melanda Sukabumi, menyebabkan kerusakan besar dan memaksa ratusan keluarga mengungsi. Curah hujan tinggi selama dua hari membuat sungai-sungai meluap dan menyebabkan longsor di beberapa wilayah. Peristiwa ini menjadi peringatan bagi kita semua untuk lebih peduli terhadap lingkungan dan meningkatkan solidaritas sosial. Banjir Sukabumi mengajarkan kita pentingnya menjaga keseimbangan alam, mencegah kerusakan lingkungan, dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Sebagai Muslim, kita juga diajarkan untuk saling peduli, membantu saudara-saudara kita yang sedang tertimpa musibah, baik melalui doa, berbagi, infak, maupun tindakan nyata.


Doa untuk Korban Banjir Sukabumi

Sebagai wujud solidaritas, mari kita panjatkan doa untuk saudara-saudara kita yang terkena dampak banjir:


اللَّهُمَّ ارْحَمْهُمْ وَاغْفِرْ لَهُمْ وَاجْعَلْ مَا أَصَابَهُمْ كَفَّارَةً لِذُنُوبِهِمْ وَبَدِّلْهُمْ بِرَحْمَتِكَ خَيْرًا مِمَّا فَقَدُوا


"Ya Allah, berikanlah rahmat-Mu kepada mereka, ampuni dosa-dosa mereka, dan jadikanlah musibah ini sebagai penghapus dosa-dosa mereka, serta gantikanlah dengan rahmat-Mu yang lebih baik dari apa yang mereka kehilangan."


Kesimpulan

Kisah banjir dalam Al-Qur'an, seperti yang terjadi pada zaman Nabi Nuh, memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya keimanan, ketaatan, dan menjaga keseimbangan alam. Bencana seperti banjir Sukabumi menjadi pengingat bagi kita untuk lebih peduli terhadap lingkungan, memperbaiki hubungan kita dengan Allah, dan saling membantu sesama. Semoga Allah SWT memberikan kekuatan kepada mereka yang tertimpa musibah dan menjadikan kita hamba-Nya yang lebih bersyukur dan bertakwa. Aamiin.

Berita Terkait

Yayasan Amal Saya Peduli Bersilaturahmi dengan PT. Venturindo EngineeringPENDISTRIBUSIAN MUSHAF AL-QUR'AN UNTUK SANTRI TAHFIDZSAYA PEDULI JALIN AUDIENSI DENGAN BANK DANAMON SYARIAH