
Yayasan Amal Saya Peduli Salurkan Bantuan Pendidikan Rp10 Juta untuk Santri Tahfidz
Yayasan Amal Saya Peduli Salurkan Bantuan Pendidikan Rp10 Juta untuk Santri Tahfidz
Ketika Air Datang, dan Harapan Hampir Tenggelam
Hari Rabu sore itu, air mulai naik ke asrama. Awalnya belum ada yang menyangka bahwa malam itu akan menjadi salah satu malam terpanjang dalam hidup kami.
Sore itu, saya bersama Abi Ramadan sedang berencana memulangkan santri. Tiket sudah hampir dibeli. Niat kami sederhana: menyelamatkan mereka sebelum keadaan semakin buruk. Kami bergerak menuju Kuala Simpang. Tapi sesampainya di sana, kenyataan memukul lebih keras—air sudah mulai naik. Akses ke Medan dan Aceh terputus. Jalanan tak lagi bisa dilewati.
Kami terpaksa berbalik arah.
Saat kembali ke asrama, air sudah setinggi pinggang orang dewasa. Kami hanya bisa menyelamatkan apa yang masih bisa diangkat: beberapa selimut dan jajanan kantin. Semua itu langsung kami bawa ke masjid, tempat para santri mengungsi sementara.
Malam mulai turun. Di saat itulah saya baru benar-benar tersadar—istri saya di rumah, sendirian.
Saya nekat pulang berjalan kaki dari pesantren menuju rumah. Perjalanan yang biasanya hanya 10 menit dengan motor, malam itu berubah menjadi hampir dua jam berjalan menembus air. Di depan SMP dekat pesantren, air sudah setinggi dada. Masih bisa ditembus, tapi dengan risiko besar.
Sejak hari itu sampai hari Minggu, kami benar-benar terputus kabar. Tidak ada sinyal. Tidak ada komunikasi. Tidak ada kepastian.
Saya dan istri akhirnya berjalan kaki dari rumah di daerah Gerbang Pertamina menuju Langsa. Baru pada hari Senin, bersama Abi Zakil, kami sampai ke pengungsian di SMA. Di sanalah satu per satu kisah itu terungkap—kisah yang membuat dada terasa sesak.
Malam Saat Keputusan Hidup dan Mati Diambil
Rabu malam, para santri mengungsi ke masjid. Tapi pagi harinya, air justru semakin naik. Hujan tak berhenti. Beberapa warga menyarankan agar mereka tetap bertahan di masjid.
Namun seorang bapak berkata dengan suara yang tak bisa diabaikan:
“Ustadz… air makin naik. Kalau kalian tidak evakuasi sekarang ke tempat yang lebih tinggi, kalian tidak akan bisa keluar lagi. Kalau nanti evakuasi besar dilakukan, kalian akan jadi yang terakhir diselamatkan. Masih ada bayi, orang tua. Prioritas bukan kalian.”
Kalimat itu menghantam keras.
Abi-abi sudah mulai kelelahan. Putus asa. Harapan terasa menipis.
Sampai akhirnya seorang teknisi kami, Bang Eko, berdiri dan berkata: “Ayo Abi, kita harus bergerak sekarang.”
Santri-santri dikumpulkan. Mereka berbaris. Satu per satu saling berpegangan tangan. Saling menguatkan.
Seperti potongan video yang kemudian beredar—mereka berjalan pelan, menembus arus deras menuju pabrik kelapa sawit (PKS), satu-satunya tempat yang lebih tinggi.
Arus begitu kuat. Barisan yang tadinya lurus mulai goyah. Beberapa santri terseret, hampir jatuh. Ada yang menangis. Ada yang berteriak:
“Abi… kami sudah tidak kuat lagi. Kami sudah lelah. Biarkan saja kami di sini.”
Yang besar merangkul yang kecil. Yang kuat menggendong yang lemah. Abi-abi pun ikut menahan tubuh santri agar tidak hanyut.
Dengan sisa tenaga dan doa, akhirnya mereka sampai di PKS.
Bertahan Hidup dengan Sisa Makanan dan Seteguk Air
Di pabrik kelapa sawit itu, mereka bertahan semalam. Tanpa kepastian. Tanpa tahu sampai kapan harus menunggu. Tempat itu hanya memberi satu hal: tanah yang lebih tinggi. Selebihnya, mereka harus berjuang sendiri.
Tidak ada makanan.
Tubuh-tubuh kecil itu duduk berderet, sebagian bersandar pada dinding, sebagian lagi memeluk lutut. Wajah-wajah lelah, mata yang mulai sayu, dan perut yang sejak lama kosong. Hanya doa yang terus dilantunkan, pelan tapi tak pernah berhenti.
Beruntung, malam sebelumnya—Selasa malam—beberapa santri sempat membawa bakso dan sosis yang disimpan dalam fiber. Ada juga ayam dari Toros yang tertinggal di depan asrama. Saat mengungsi ke masjid, makanan itu sempat ikut terbawa. Namun ketika keadaan semakin genting dan evakuasi ke PKS harus dilakukan secepatnya, semua itu terpaksa ditinggalkan di masjid.
Malam itu, perut-perut kecil mulai terasa perih.
Seorang Abi berdiri. Suaranya lirih, tapi tekadnya kuat.
“Saya mau kembali ambil makanan.”
Warga langsung melarang. Air sudah lebih dari dua meter. Masjid hampir tenggelam seluruhnya. Orang-orang yang masih bertahan di sana bahkan sudah naik ke atap. Arus begitu deras, setiap langkah bisa berujung petaka.
Tapi Abi itu menggeleng pelan, lalu berkata dengan kalimat yang membuat semua terdiam:
“Tidak apa-apa kalau saya mati. Asal santri saya tidak mati kelaparan.”
Akhirnya, dengan segala risiko, warga membantu. Abi itu dinaikkan ke sampan. Malam gelap, arus kuat, dan air yang tak bersahabat mengiringi perjalanannya. Beberapa sosis dan bakso berhasil diambil—tidak banyak, tapi cukup untuk memberi harapan.
Makanan itu dibawa kembali ke PKS. Dibagi perlahan. Sedikit demi sedikit. Tidak ada yang serakah. Tidak ada yang meminta lebih. Semua tahu, ini bukan tentang kenyang, tapi tentang bertahan.
Namun hari terus berjalan.
Stok makin menipis. Air minum hampir habis.
Satu gelas air mineral dibagi untuk tiga, bahkan empat orang. Setiap tegukan dijaga. Setiap tetes dihitung. Tidak ada yang berani mengeluh.
Ada warga yang memberi pisang mentah. Pisang itu direbus seadanya. Dimakan bersama-sama. Rasanya hambar, tapi malam itu terasa sangat berarti.
Hari pertama terlewati.
Hari kedua datang dengan tubuh yang semakin lemah.
Hari ketiga terasa paling berat.
Kaki mulai gemetar. Kepala sering pusing. Beberapa santri hanya bisa berbaring, memejamkan mata, menunggu entah apa. Harapan terasa makin tipis, tapi doa tetap menggantung di udara.
Mereka tidak menyerah.
Mereka bertahan—dengan sisa makanan, seteguk air, dan keyakinan bahwa pertolongan Allah pasti datang.
Hari Keempat, dan Suara yang Dinanti
Hari keempat—hari Minggu—datang dengan tubuh yang semakin lemah dan harapan yang nyaris habis. Malam sebelumnya terasa sangat panjang. Beberapa santri hanya bisa duduk bersandar, memeluk lutut, menahan lapar dan dingin. Air minum hampir tak tersisa. Nafas terasa berat, langkah sudah tak lagi kuat.
Tak ada yang tahu apakah hari itu akan membawa pertolongan, atau justru menjadi hari paling sunyi.
Lalu, di tengah kesunyian itu, terdengar suara asing dari kejauhan.
Pelan… lalu semakin jelas.
Baling-baling berputar di udara.
Awalnya mereka ragu. Sebagian menoleh, sebagian lainnya hanya terdiam, seakan takut berharap terlalu tinggi. Namun suara itu semakin dekat. Semakin nyata.
Helikopter.
Saat itulah tangis pecah tanpa bisa dibendung. Ada yang menangis sambil berdiri, ada yang terduduk lemas, ada yang langsung sujud di tanah basah. Doa-doa yang selama berhari-hari dipendam akhirnya tumpah dalam isak syukur.
Santri-santri yang selama ini bertahan dengan sisa tenaga, dengan perut kosong dan seteguk air yang dibagi bersama, akhirnya tahu satu hal: mereka tidak sendirian. Di saat semua jalan terasa tertutup, Allah tetap membuka satu pintu pertolongan.
Helikopter itu bukan sekadar membawa bantuan. Ia membawa harapan. Ia membawa jawaban atas doa-doa yang dilantunkan dalam gelap, dalam lapar, dalam kelelahan.
Dan pada hari keempat itu, di tengah langit yang masih kelabu, mereka kembali percaya—bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-hamba-Nya.

Yayasan Amal Saya Peduli Salurkan Bantuan Pendidikan Rp10 Juta untuk Santri Tahfidz

Yayasan Amal Saya Peduli Salurkan Dana Hibah Rp25 Juta untuk Anak Yatim dan Dhuafa

LAZ Saya Peduli dan Chic Caffeine Coffee Resmi Tandatangani MoU Penggalangan Dana Sosial